Istilah logam biasanya diberikan kepada semua unsur-unsur kimia dengan ketentuan atau kaidah-kaidah tertentu. Unsur ini dalam kondisi suhu kamar, tidak selalu berbentuk padat melainkan ada yang berbentuk cair. Logam berat masih termasuk golongan logam dengan kriteria-kriteria yang sama dengan logam-logam lain. Perbedaannya terletak dari pengaruh yang dihasilkan bila logam berat ini berikatan dan atau masuk ke dalam tubuh organisme hidup. Diantara logam-logam tersebut ada yang bersifat essensial dan ada yang bersifat toksik. Sebagai contoh, bila unsur logam besi masuk kedalam tubuh, meski dalam jumlah agak berlebihan, biasanya tidak menimbulkan pengaruh buruk terhadap tubuh. Sedangkan logam seperti Hg dan Pb masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai macam jenis penyakit seperti kerusakan syaraf, kelumpuhan, sistem refroduksi terganggu dan masih banyak efek lain yang di timbulkannya.Logam berat biasanya bersifat toksik (racun) dan erat hubungannya dengan pencemaran lingkungan. Perkembangan yang pesat dari toksikologi dan semakin luasnya bidang pembahasan telah menyebabkan ilmu ini kemudian terpecah-pecah lagi menjadi tiga sub bidang ilmu, yaitu :
1. Forensiks toksikologi, yaitu suatu pembahasan yang berhubungan dengan masalah kesehatan dan aspek pengobatan dari keracunan yang terjadi pada manusia
2. Toksikologi ekonomi, yaitu suatu pembahasan toksikologi yang menjurus pada efek-efek berbahaya dari substansi-substansi khusus yang berhubungan dengan kebutuhan manusia, seperti bahan pengawet makanan dan pestisida
3. Toksikologi lingkungan, yaitu pembahasan khusus toksikologi terhadap buangan berbahaya yang masuk ke dalam suatu tatanan lingkungan hidup yang di duga dapat menimbulkan pengaruh buruk terhadap kesehatan manusia.
Logam berat pada umumnya banyak berasal dari aktivitas industri yang di buang begitu saja ke perairan. Punahnya populasi ikan di duga akibat adanya logam berat yang mulai mendominasi perairan-perairan di Indonesia. Sebagai contoh adalah terjadinya peningkatan kadar merkuri (Hg) di perairan Teluk Jakarta. Peningkatan kadar merkuri dalam perairan Teluk Jakarta itu telah meninggalkan bekas bagi masyarakat Teluk Jakarta. Tercatat satu orang telah meninggal dan beberapa orang lainnya mengalami kelumpuhan, lidah kelu, dan sama sekali tidak memiliki daya. Penyakit itu nyaris sama dengan penyakit yang timbul di Teluk Minamata di Jepang pada tahun 1950-an. (Sumber: Pencemaran Lingkungan, Tresna Sastrawijaya, 1991).Logam berat seperti Zn (seng),Cu (tembaga), Cd (kadmium), Pb (plumbum), Hg (merkuri), As (Arsen) dan Cr (kromium) akan sulit terlarut dalam kondisi perairan yang anoksik. Logam berat yang terlarut dalam air akan berpindah ke dalam sedimen jika berikatan dengan materi organik bebas atau materi organik yang melapisi permukaan sedimen, dan penyerapan langsung oleh permukaan partikel sedimen. Dan untuk menguji suatu kandungan logam berat di perairan perlu dilakukan penelitian yang lebih spesifik. Dalam lingkungan perairan ada tiga media yang dapat dipakai sebagai indikator pencemaran logam berat, yaitu air, sedimen dan organisme hidup. Pemakaian organisme laut sebagai indikator pencemaran didasarkan pada kenyataan bahwa alam atau lingkungan yang tidak tercemar akan ditandai oleh kondisi biologi yang seimbang dan mengandung kehidupan yang beranekaragam. Terdapat beberapa pengaruh toksisitas logam pada ikan, pertama pengaruh toksisitas logam pada insang. Insang selain sebagai alat pernafasan juga digunakan sebagai alat pengaturan tekanan antara air dan dalam tubuh ikan (osmoregulasi). Oleh sebab itu insang merupakan organ yang penting pada ikan dan sangat peka terhadap pengaruh toksisitas logam.
Jual EDTA untuk mengikat logam berat yang ada di air. EDTA umum digunakan di pembenihan udang sebagai treastment air. Air laut sebelum digunkan sebagai media pembenihan udang perlu diolah dahulu salahsatunya dengan menggunakan EDTA untuk mengikat logam-logam berat yang ada di air laut. Untuk informasi dan pemesanan silahkan hub 0812 2841 280. Terimakasih
BalasHapus